Latest Post


Oleh; Ust Hendra Sudrajat
Materi-2
Definisi ilmu Manthiq
تَعْرِيْفُهُ
 *Ta'riefnya* :
مِمَّا تَقَدَّمَ يُمْكِنُنَا اَنْ نَسْتَنْبِطَ اَنَّ عِلْمَ الْمَنْطِقِ عِبَارَةٌ عَنْ قَوَاعِدَ يَسْتَرْشِدُ بِهَا الْاِنْسَانُ فِي تَفْكِيْرِهِ, لِيَاْمَنَ مِنَ الزَّلَلِ, وَتَسْلَمَ مَعْلُوْمَاتُهُ مِنَ الْخَطَاِ.
Dari (uraian) terdahulu kita dapat membuat kesimpulan bahwa ilmu Manthiq adalah sebuah ungkapan tentang kaidah-kaidah  yang manusia dapat terbimbing dengannya dalam cara berfikirnya, agar selamat dari keleloruan dan selamat pengetahuannya dari kesalahan.
وَنُحِبُّ اَنْ نَسُوْقَ اِلَيْكَ تَعْرِيْفًا قَدِ اشْتَهَرَ بَيْنَ الْمَنَاطِقَةِ وَهُوَ :
"قَانُوْنٌ تَعْصِمُ مُرَاعَاتُهُ الذِّهْنَ عَنِ الْخَطَاِ فِي التَّفْكِيْرِ".
وَهٰذَا التَّعْرِيْفُ لاَيَخْتَلِفُ فِي مَعْنَاهُ عَمَّا سَبَقَ.
Dan kami merasa senang untuk mengungkapkan  kepadamu sebuah definisi yang benar-benar telah terkenal diantara para ahli Manthiq, yaitu:
"Aturan yang dapat menjaga fikiran dari kesalahan dalam berfikir."
Dan definisi ini tidak bertentangan maknanya dengan uraian sebelumnya.
وَذٰلِكَ الْقَانُوْنُ لاَيُعَلِّمُنَا كَيْفَ نُفَكِّرُ فَحَسْبُ، بَلْ يُعَلِّمُنَا اَيْضًا كَيْفَ يَنْبَغِي اَنْ نُفَكِّرَ لِنَصِلَ مِنْ اَقْرَبِ الطُّرُقِ اِلَی نَتِيْجَةٍ صَحِيْحَةٍ، وَيُرِيْنَا خَطَاَ الْفِكْرِ عِنْدَ مَا يَنْحَرِفُ عَنِ الْقَوَاعِدِ.
Dan aturan itu tidak hanya mengajarkan kita bagaimana cara berfikir saja, bahkan mengajarkan juga kepada kita bagaimana seharusnya kita berfikir agar bisa sampai kepada metoda yg paling dekat menuju kesimpulan yang benar, dan memperlihatkan kepada kita kesalahan dalam berfikir ketika menyimpang dari aturan-aturan itu.
واللهُ اَعْلَمُ.



Oleh; Ust Hendra Sudrajat
Materi-1

اَلْحَاجَةُ إِلَی عِلْمِ الْمَنْطِقِ
Kebutuhan kepada ilmu Manthiq

يَمْتَازُ الْإِنْسَانُ عَنْ سَائِرِالْحَيَوَانِ بِالْعَقْلِ, وَهُوَ عُدَّتُهُ فِي التَّفْكِيْرِ لِلْوُصُوْلِ إِلَی شَيْءٍ يُجَهِّلُهُ, وَبِهِ يُدْرِكُ الْحَقَائِقَ, وَيَقِفُ عَلَی أَسْرَارِ الْكَوْنِ.
Manusia berbeda dari seluruh hewan dengan adanya akal, dan ia merupakan persiapan/perlengkapan manusia dalam berfikir untuk mengapai sesuatu yang membuatnya tidak tahu, dan dengan akal juga dapat mengetahui kebenaran-kebenaran, dan memahami rahasia-rahasia alam.
وَاْلإِنْسَانُ مَدْفُوْعٌ بِطَبِيْعَتِهِ إِلَی التَّفْكِيْرِ, وَهُوَ يَسْتَعْمِلُ فِكْرَهُ مَادَامَتْ حَيَاتُهُ, سَوَاءٌ فِي ذٰلِكَ الصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ, كُلٌّ عَلَی قَدْرِ عَقْلِهِ.
Dan manusia terdorong dengan nalurinya untuk berfikir, dan akan menggunakan fikirannya selama hidupnya, sama saja dalam hal itu (:berfikir) masalah yang kecil dan yang besar, semuanya tergantung kemampuan menggunakan akalnya.
غَيْرَ أَنَّ تَفْكِيْرَهُ لاَيُؤَدِّي دَائِمًا إِلَی نَتَائِجَ صَحِيْحَةٍ, فَقَدْ يَزَلُّ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُ, وَ يَخْطَئُ عَنْ غَيْرِ قَصْدٍ, فَيَلْتَبِسُ عَلَيْهِ الْحَقُّ بِالْبَاطِلِ, وَيَصِلُ إِلَی مَعْلُوْمَاتٍ غَيْرِ صَحِيْحَةٍ.
Hanya saja bahwa fikiran manusia tidak selamanya dapat menyampaikan kepada kesimpulan-kesimpulan yang benar, maka terkadang tak terasa tergelincir, dan membuat kesalahan tanpa sengaja,  maka akan menjadi kabur/tidak jelas antara yang benar dan bathil, dan akan menuju kepada kabar-kabar/pengetahuan yang tidak benar.
فَلِكَيْ يَأْمُنُ الْإِنْسَانُ مِنَ الزَّلَلِ. وَتَسْلَمُ مَعْلُوْمَاتُهُ مِنَ الْخَطَإِ, وُضِعَتْ قَوَاعِدُ يَسْتَرْشِدُ بِهَا فِي تَفْكِيْرِهِ, وَيَسِيْرُ فِيْهِ عَلَی مُقْتَضَاهَا, تِلْكَ الْقَوَاعِدُ هِيَ عِلْمُ الْمَنْطِقِ.
Maka agar manusia selamat dari kesalahan , dan selamat pengetahuannya dari kesalahan, dibuatlah kaidah-kaidah  yang akan membimbing dalam cara berfikirnya, dan sejalan dalam (berfikir)nya dengan ketentuan (kaidah)nya, kaidah-kaidah itulah yang disebut dengan ILMU MANTHIQ.

  1.   Definisi Hadits
Kata hadis berasal dari bahasa arab, a) al Hadits, hudatsa jamaknya ahadis, hidtsan dan hudtsan. Sedangkan menurut terminologi, hadis diberi pengertian yang berbeda–beda oleh para ulama’. Perbedaan pandangan tersebut banyak dipengaruhi oleh terbatas dan luasnya obyek tinjauan masing–masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu yang didalaminya.
Menurut istilah ahli ushul; pengertian hadis adalah :
كل ما صدرعن النبى ص م غيرالقران الكريم من قول اوفعل اوتقريرممايصلح ان يكون دليلا لحكم شرعى
“Hadis yaitu segala sesuatu yang dikeluarkan dari Nabi SAW selain Al Qur’an al Karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara”
Sedangkan menurut istilah fuqaha. Hadis adalah :
كل ماثبت عن النبى ص م ولم يكن من باب الفرض ولاالواجب
“yaitu segala sesuatu yang ditetapkan Nabi SAW yang tidak bersangkut paut dengan masalah–masalah fardhu atau wajib”
Para ahli ushul memberi pengertian yang demikian disebabkan mereka bergelut dalam ilmu ushul yang banyak mempelajari tentang hukum syari’at saja. Dalam pengertian tersebut hanya yang berhubungan dengan syara’ saja yang merupakan hadis, selain itu bukan hadis, misalnya urusan berpakaian. Sedangkan para fuqaha mengartikan yang demikian di karenakan segala sesuatu hukum yang berlabel wajib pasti datangnya dari Allah swt melalui kitab Al Qur’an. Oleh sebab itu yang terdapat dalam hadis adalah sesuatu yang bukan wajib karena tidak terdapat dalam Al Qur’an atau mungkin hanya penjelasannya saja.Sedangkan menurut ulama’ Hadis mendefinisikannya sebagai berikut :
كل ما اثر عن النبى ص م من قول اوفعل اوتقريراوصفة خلقية او خلقية
“Segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat–sifat maupun hal ikhwal Nabi.
Menurut jumhur muhadisin sebagaimana ditulis oleh Fatchur Rahman adalah sebagai berikut:
مااضيف للنبى ص م قولااوفعلااوتقريرااونحوها
“segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan dan yang sebagainya”
Perbedaan pengertian antara ulama’ ushul dan ulama’ hadis di atas disebabkan adanya perbedaan disiplin ilmu yang mempunyai pembahasan dan tujuan masing–masing. Ulama’ ushul membahas pribadi dan prilaku Nabi SAW sebagai peletak dasar hukum syara’ yang dijadikan landasan ijtihad oleh kaum mujtahid dizaman sesudah beliau. Sedangkan ulama Hadis membahas pribadi dan prilaku Nabi Saw sebagai tokoh panutan (pemimpin) yang telah diberi gelar oleh Allah swt sebagai Uswah wa Qudwah (teladan dan tuntunan). Oleh sebab itu ulama hadis mencatat semua yang terdapat dalam diri Nabi saw baik yang berhubungan dengan hukum syara’ maupun tidak. Oleh karena itu hadis yang dikemukakan oleh ahli ushul yang hanya mencakup aspek hukum syara’ saja, adalah hadis sebagai sumber tasyri’. Sedangkan definisi yang dikemukan oleh ulama’ hadis mencakup hal–hal yang lebih luas.
Jadi, Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat-sifat, keadaan dan himmahnya
Taqrir adalah perbuatan atau keadaan sahabat yang diketahui Rosulullah dan beliau mendiamkannya atau mengisyaratkan sesuatu yang menunjukkan perkenannya atau beliau tidak menunjukkan pengingkarannya.
Himmah adalah hasrat beliau yang belum terealisir, contohnya hadits riwayat Ibnu Abbas :
“Dikala Rosulullah saw berpuasa pada hari ‘Asura dan memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat menghadap kepada Nabi, mereka berkata : ‘Ya Rasulullah, bahwa hari ini adalah yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani’, Rasulullah menyahuti : ‘Tahun yang akan datang, Insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan’.” (HR Muslim dan Abu Dawud)
tetapi Rasulullah tidak sempat merealisasikannya, disebabkan beliau telah wafat.
Menurut Imam Syafi’i bahwa menjalankan himmah itu termasuk sunnah, tetapi Imam Syaukani mengatakan tidak termasuk sunnah karena belum dilaksanakan oleh Rasulullah.
      2.   Definisi Sunnah
Di samping istilah hadis terdapat sinonim istilah yang sering digunakan oleh para ulama’ yaitu sunnah. Pengertian istilah tersebut hampir sama, walaupun terdapat beberapa perbedaan. Maka dari itu kami kemukakan pengertiannya agar lebih jelas.
Sunnah dalam kitab Ushul Al hadis adalah sebagai berikut :
مااثرعن النبى ص م من قول اوفعل اوتقرير اوصفة خلقية اوسيرة سواء كان قبل البعثة اوبعدها
“Segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perkjalanan hidup, baik sebelum Nabi diangkat jadi Rasul atau sesudahnya”
Dalam pengertian tersebut tentu ada kesamaan antara hadis dan sunnah, yang sama–sama bersandar pada Nabi saw, tetapi terdapat kekhususan bahwa sunnah sudah jelas segala yang bersandar pada pribadi Muhammad baik sebelum atau sesudah diangkat menjadi Nabi, misalnya mengembala kambing, menikah minimal umur 25 tahun dan sebagainya.
Walaupun demikian terdapat perbedaan yang sebaiknya kita tidak berlebihan dalam menyikapinya. Sebab keduanya sama–sama bersumber pada Nabi Muhammad saw.
Definisi Sunnah menurut para Ulama’:
Kalangan ahli agama di dalam memberikan pengertian sunnah berbeda-beda, sebab para Ulama’ memandang sunnah dari segi yang berbeda-beda, pun pula dasar membicarakannya dari segi yang berlainan.
a. Ulama Hadits
Ulama Hadits memberikan pengertian Sunnah meliputi biografi Nabi, sifat-sifat Nabi baik yang berupa fisik, umpamanya; mengenai tubuhnya, rambutnya dan sebagainya, maupun yang mengenai physic dan akhlak Nabi dalam keadaan sehari-harinya, baik sebelum atau sesudah bi’stah atau di angkat sebagai nabi.
b. Ulama Ushul Fiqh
Ulama Ushul Fiqh memberikan pengertian sebagai berikut;
“Segalayang di nuklikan dari Nabi Muhammad SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut pahutnya dengan Hukum”.
c. Ulama Fiqh
Menurut Ulama Fiqh, sunnah ialah “perbuatan yang di lakukan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai wajib atau fardlu. Jadi suatu pekerjaan yang utama di kerjakan”.
Atau dengan kata lain: sunnah ialah suatu amalan yang di beri pahala apabila di kerjakan, dan tidak dituntut apabila di tinggalkan.
      3.   Definisi Khabar
Menurut bahasa berarti an-Naba’ (berita-berita), sedang jama’nya adalah Akhbar
Khabar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi dan para sahabat, jadi setiap hadits termasuk khabar tetapi tidak setiap khabar adalah hadits.
Menurut istilah ada tiga pendapat yaitu:
Merupakan sinonim bagi hadits, yakni keduanya berarti satu.
Berbeda dengan hadits, di mana hadits adalah segala sesuatu yang datang dan Nabi SAW. sedang khabar adalah suatu yang datang dari selain Nabi SAW.
Lebih umum dari hadits, yakni bahwa hadits itu hanya yang datang dari Nabi saja, sedang khabar itu segala yang datang baik dari Nabi SAW. maupun yang lainnya.
     4.   Definisi Atsar
Atsar menurut lughat/etimologi ialah bekasan sesuatu, atau sisa sesuatu, atau berarti sisa reruntuhan rumah dan sebagainya. dan berarti nukilan (yang dinukilkan). Sesuatu do’a umpamanya yang dinukilkan dari Nabi dinamai: do’a ma’tsur.
Atsar menurut Istilah/terminologi
Sedangkan secara terminologi ada dua pendapat mengenai definisi atsar ini. Pertama, kata atsar sinonim dengan hadits. Kedua, atsar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan Shahabat.
Menurut istilah Jumhur ahli hadits mengatakan bahwa Atsar sama dengan khabar juga hadits, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW., sahabat, dan tabi’in. Dari pengertian menurut istilah ini, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama.
Sedangkan menurut ulama Khurasan, bahwa Atsar untuk yang mauquf (yang disandarkan kepada sahabat) dan khabar untuk yang marfu. (yang disandarkan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam .
Jadi, atsar merupakan istilah bagi segala yang disandarkan kepada para sahabat atau tabi’in, tapi terkadang juga digunakan untuk hadits yang disandarkan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, apabila berkait misal dikatakan atsar dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Contoh Atsar
Perkataan Hasan Al-Bashri rahimahullaahu tentang hukum shalat di belakang ahlul bid’ah:
وَقَالَ الْحَسَنُ: صَلِّ وَعَلَيْهِ بِدَعَتُهُ
“Shalatlah (di belakangnya), dan tanggungan dia bid’ah yang dia kerjakan.”



A.      Pengertian Inna Wa Akhowatuha (إن واخواتها)
إن adalah salah satu ‘amil (عامل) dari beberapa amil nawashib yang bisa masuk sekaligus mempengaruhi susunan i’rab mubtada’ dan khabar. Adapun teman-temannya inna (إن) yaitu:  أن لكن كأن لعل ليت .
  إن واخواتهاmempunyai fungsi beramal menasabkan mubtada’ (مبتداْ)  menjadi isimnya(اسمها)  dan merafa’kan khabar(خبر)  menjadi menjadi khabarnya(إن)  inna.
تنصب ان المبتداْ اسما والخبر # ترفعه كأن زيدا ذو نظر 
 
seperti contoh di bawah ini:
.ان ان زيدا حاضر زيد حاضر

Setelah lafal ( زيد حاضر ) kemasukan inna, lafal zaidun (زيد) menjadi isimnya inna, dan dibaca nashab menjadi(زيدا) , sedangkan lafal hadlirun (حاضر) tetap di baca rafa’menjadi khabar dari inna. Begitu pula dengan contoh di bawah ini:
أن = أن زيدا قائم زيد قائم
ليت = ليت الشباب يعود يوما
لكن = زيد شجاع لكنه ليس بكريم
ليت = ليت الشباب يعود يوما
لعل = لعل الحبيب قادم

B.      Faedah Inna Wa akhawatuha
Menurut para ulama ahli nahwu, masing-masing dari Inna Wa Akhawatuha (إن واخواتها)  mempunyai faedah yang berbeda-beda yaitu:
1.         Inna (إن)mempunyai faedah li al taukid/ menguatkan suatu pernyataan atau kabar, untuk meyakinkan orang yang diberi kabar.
Contoh:ان عمرا جالس
2.      Ka anna(كأن mempunyai faedah li al tasybih (menyerupakan).
Contoh:كأن وجه زيد بدر
3.      La’alla (لعل) dan Laita(ليت)  mempunyai arti yang sama, tetapi faedahnya berbeda.
a.        Laalla (لعل) mempunyai 2 faedah yaitu:
§   Li al taraji (للترجى), mengharap sesuatu yang kemungkinan akan terjadi.
Contoh:لعل محبوبى وصل
§   Li al tawaqu(للتوقع) , mengharap sesuatu yang benar-benar akan terjadi.
Contoh:لعل زيدا هالك
b.        Laita  (ليت)mempunyai  faedah li al tamanniy (للتمنى) , yaitu mengharap sesutu yang tidak mungkin akan terjadi atau sesuatu yang kemungkinan akan terjadi. Penjelasannya sebagaimana berikut:
§   Tidak mungkin terjadi:
               contoh:  ليت البقرة ذو يدين
§  Kemungkinan kecil terjadi:
Contoh:  ليت لي قنطارا من ذهب
4.      Anna (أن) mempunyai faedah li al taukid(للتوكيد) , yaitu menguatkan sesuatu pernyataan atau kabar, untuk meyakinkan orang yang di beri kabar.
Contoh:   أن زيدا قائم
5.      Lakinna ((لكنmempunyai faedalil istidrok (menyambung).
Contoh:      زيد شجاع لكنه ليس بكريم
   
C.      Cara Pembacaan Hamzah Inna (إن)
Ada 3 cara dalam pembacaan hamzah Inna (إن) . Masing-masing bacaan mempunyai syarat dan tempat-tempat tertentu. Ketiga cara tersebut yaitu:
1.      Wajib dibaca fathah (فتحة
§  Ketika Inna(إن)  menempati tempatnya masdar yang dirafa’kan oleh fi’il.
Contoh:يعجبني انك قائم   asalnya يعجبني قيامك
§  Ketika Inna(إن)  menempati tempatnya masdar yang dinashabkan oleh fi’il.
Contoh:عرفت انك حاضر asalnya عرفت حضورك
§  Ketika Inna(إن)  menempati tempatnya masdar yang dijerkan oleh huruf jer.
Contoh:عجبت من انك قائم  asalnya عجبت من قيامك

2.      Wajib dibaca kasrah(كسرة) 
§  Ketika Inna(إن)  berada di awal kalimat.
Contoh: إن زيدا قائم
§  Ketika Inna(إن)  berada di awal shilah.
Contoh:جاء الذي إنه  قائم
§  Ketika Inna  (إن)menjadi jawabnya qasam, sedangkan khabarnya dimasukilam.
Contoh:والله إن زيدا لقائم
§  Ketika Inna(إن)  menempati tempatnya tarkib/ susunan hal(حال).
Contoh: زرت واني ذو امل
§  Ketika Inna  (إن)menjadi maqul qoul(مقول قول) .
Contoh: قلت ان بكرا حاضر 
§  Ketika Inna(إن)  berada setelah af’al qulub yang dita’liq dengan lam.
Contoh:   اعلم انه لذوتقا




3.      Bisa dibaca kasrah  (كسرة) dan fathah(فتحة) 
§  Ketika Inna  (إن)berada setelah idzan fajaiyyah (إذا فجائية).
Contoh:خرجت فاذا إن \ أن زيدا قائم
§  Ketika Inna  (إن)menjadi jawabnya qasam, khabarnya Inna  (إن) tidak di masuki lam.
Contoh:         والله أن \ إن زيدا لقائم
§  Ketika Inna  (إن)berada setelah fa’ jaza’ (فاء جزاء).
Contoh:من ياْتني فإنه \ فأنه مكرم
§  Ketika Inna  (إن)berada setelah mubtada’ (مبتداْ) yang berupa qoul fi al ma’na (قول في المعنى)dan khabarnya juga berupa qoul. Orang yang mengucapkan satu orang.
Contoh:خير القول إني \ أني احمد

D.      Cara/ Tempat Pembacaan Nun Pada Lafal Inna(إن) Dan Anna(أن)
Nun pada lafal Inna(إن)  boleh di baca sukun, tetapi amalnya berkurang. Maksudnya lebih sering tidak beramal menashabkan dengan syarat-syarat tertentu, yaitu:
1.      Ketika Inna (إن) di baca takhfif/ sukun nunnya dan tidak diamalkan, maka khabarnya wajib bertemu lam fariqah.
Contoh: إن زيد لحاضر
2.      Ketika Inna (إن) di baca takhfif/ sukun nunnya dan tidak di amalkan, maka khabarnya boleh tidak bertemu lam fariqoh. Hal semacam ini berlaku ketika maksud mutakallim sudah di mengerti.
Contoh:انا ابن اباة الضيم من اْل مالك # وان مالك كأنت كرام المعادن
3.      Ketika Anna ( (أنdi baca takhfif/ sukun nunnya, maka isimnya wajib berupadlomir sya’ni yang di simpan. Khabarnya wajib berupa jumlah yang bertempat setelah Anna ( .(أن
Contoh:  علمت أن زيدا قائم
4.      Ketika Anna di baca takhfif/ sukun nunnya, khabarnya berupa fi’il du’a (فعل دعاء)dan fi’il ghoir munshorif  (فعل غير منصرف). Maka, menurut pendapat ahli nahwu seyogyanya antara fi’il dan al nadi dipisahkan dengan qod, nafi, tanfis, lau (لو). Namun, dalam kitab nahwu jarang sekali terdapat penggunaan lau((لو .
Contoh:
قد          ونعلم أن قد صدقتنا
            نفي        أيحسب الإنسان أن لن نجمع عظامه
تنفيس     علم ان سيكون منكم مرضى
لو          وان لواسنقامواعلى الطريقة لأسقيناهم ماءاغدقا 
5.      Ketika Kaanna (كأن)  di baca takhfif/ sukun nunnya, maka ma’mul manshubnyawajib dibuangBoleh ditetapkan akan tetapi berlaku sangat sedikit.
Contoh:              كان لم تغن بالأمس
                                       كان زيد قائم

E.        Inna Wa Akhawatuha Bertemu Ya’ Mutakallim
Inna wa akhawatuha juga bisa di temui ya’ mutakallim, yang nantinya masing-masing dari inna wa akhawatuha ada yang wajib dipisah dengan nun wiqoyah (jika tidak dalam keadaan dlorurat). Ada pula yang boleh dipisah atau tidak di pisah dengannun wiqoyah.
Ada pun yang wajib di pisah dengan nun wiqoyah yaitu:
Contoh:
§         ليت          ياليتني كنت معهم
كمنية جابر إذ قال ليتي # أحادفه وافقد جل مالي
§         لعل          لعلي ابلغ الاسباب
فقلت اعيراني القدوم لعلني # احط بها قبر الابيض ما جد
Sedangkan yang boleh di pisah maupun tidak di pisah terdapat pada selain lafallaita dan la’alla, yaitu inna, anna, lakinna, kaanna.
Contoh:
إن : إني شجاع  -  إنني شجاع 
أن : أني قائم - أنني قائم
لكن : أنا تلميد لكني موظف - أنا تلميد لكنني موظف
كأن : هو ينظرني كأني محبوبته - هو ينظرني كأني محبوبته 


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.